Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jambi, Ansori Hasan saat hadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jambi
JAMBI - Mundurnya Kabupaten Tebo menjadi Tuan Rumah pada penyelenggaran MTQ tingkat Provinsi tahun 2027, memancing rasa kecewa Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jambi Ansori Hasan. Pasalnya pernyataan Kabupaten Tebo mundur dengan dalih keterbatasan anggaran dinilai Ansori terlalu terburu-buru. ini disampaikan dia pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jambi dihadapan Ketua dan anggota DPRD Provinsi Jambi, Gubernur serta jajarannya, Senin (21/9/26).
Berikut ini beberapa pernyataan Ansori Hasan yang sangat penting dan menyangkut harga diri, semangat, serta harapan masyarakat Kabupaten Tebo diantaranya, Dirinya menyampaikan secara terbuka bahwa tidak setuju apabila Kabupaten Tebo mundur sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Jambi Tahun 2027. Amsori juga memahami bahwa penyelenggaraan MTQ membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
"Saya juga memahami kondisi fiskal daerah dan berbagai keterbatasan yang dihadapi pemerintah daerah.
Tetapi menurut saya, persoalan anggaran tidak seharusnya langsung menjadi alasan untuk menyerah dan membatalkan amanah sebagai tuan rumah.
Ketika Tebo ditetapkan sebagai tuan rumah, sesungguhnya yang diberikan bukan hanya sebuah acara. Yang diberikan adalah kepercayaan.
Kepercayaan dari Pemerintah Provinsi Jambi. Kepercayaan dari masyarakat Provinsi Jambi. Dan kepercayaan kepada masyarakat Kabupaten Tebo untuk menjadi tuan rumah bagi seluruh kafilah dari kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi," beber Ansori penuh haru.
Sebagai Anggota DPRD Provinsi Jambi dapil Bungo-Tebo diriinya khawatir apabila mundur hanya karena persoalan anggaran, masyarakat akan melihat bahwa Tebo tidak mampu memegang amanah yang sudah diberikan.
Padahal dirinya yakin, masyarakat Tebo adalah masyarakat yang memiliki semangat gotong royong dan mampu menjadi tuan rumah yang baik.
"Bagi kami, MTQ bukan sekadar kegiatan seremonial. MTQ adalah bagian dari syiar Islam. MTQ adalah ruang untuk membangun generasi Qur’ani. MTQ juga menjadi momentum untuk memperkenalkan Kabupaten Tebo kepada masyarakat Jambi dan daerah-daerah lainnya,"terang Ansori.
"karena itu, jangan kita melihat MTQ hanya dari berapa besar biaya yang harus dikeluarkan. Kita juga harus melihat nilai manfaat sosial, keagamaan, ekonomi, dan promosi daerah yang akan diperoleh Kabupaten Tebo. Pedagang akan mendapatkan manfaat. Pelaku UMKM akan mendapatkan kesempatan. Hotel, penginapan, rumah makan dan sektor transportasi akan bergerak," timpalnya.
Ansori juga paham bahwa pemerintah daerah memiliki pertimbangan kemampuan anggaran. Tetapi sebagai wakil rakyat, dirinya merasa perlu menyampaikan suara ini:
Kalau persoalannya adalah anggaran, mari kita cari jalan keluarnya. Jangan langsung mencari alasan untuk mundur.
Kalau kemampuan APBD Kabupaten Tebo terbatas, maka saya berharap Pemerintah Provinsi Jambi hadir.
Kalau masih kurang, mari kita bicara bersama. DPRD Provinsi Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Tebo, DPRD Kabupaten Tebo dan seluruh stakeholder harus duduk satu meja.
Kita hitung kebutuhan secara realistis," Ajaknya.
"Kita pangkas kegiatan yang tidak terlalu penting. Kita susun skala prioritas. Kita cari sumber pendanaan yang memungkinkan.
Dan yang paling penting, kita bangun semangat gotong royong.
Jujur pak Gubernur, saya tidak ingin Tebo Kehilangan Momentum besar ini. Tebo sudah mendapatkan kepercayaan menjadi tuan rumah.
Maka yang harus kita pikirkan sekarang "Bagaimana caranya Tebo tetap menjadi tuan rumah dengan kemampuan anggaran yang kita miliki?” Imbuhnya lagi.
Ansori berharap Pemerintah Provinsi Jambi dapat mempertimbangkan dukungan anggaran melalui APBD Provinsi Jambi Tahun 2027 untuk membantu penyelenggaraan MTQ di Kabupaten Tebo. Selain itu kata dia, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dunia usaha, BUMN, BUMD dan seluruh masyarakat dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Hal tersebut kata dia, bukan berarti seluruh beban harus ditanggung APBD. Ansori yakin persoalan ini bisa dilakukan dengan cara gotong royong. Kabupaten Tebo Harus Berani Menjadi Tuan Rumah. dirinya percaya masyarakat Tebo tidak meminta sesuatu yang berlebihan. masyarakat Tebo hanya ingin membuktikan bahwa ketika diberi amanah, Tebo mampu menjadi tuan rumah yang baik.
"Kita mungkin tidak perlu membuat MTQ yang paling mewah.
Tetapi kita harus membuat MTQ yang paling berkesan, paling bersahabat, paling merakyat, dan paling terasa manfaatnya bagi masyarakat. Karena yang kita rayakan bukan kemewahan acaranya. Yang kita muliakan adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu, melalui forum yang terhormat ini, saya meminta kepada Pemerintah Provinsi Jambi untuk tidak terburu-buru menerima keputusan Kabupaten Tebo untuk mundur sebagai tuan rumah MTQ Provinsi Jambi Tahun 2027," sebut Ansori penuh harap.
Penyataan penting sebagai penutup Ansori meminta agar bisa dicari solusi. dirinya mengajak stokeholder duduk bersama, hitung ulang.
sehingga diharapkan masih ada jalan, guna pertahankan Tebo sebagai tuan rumah.
Kalau ada masalah anggaran, kita cari anggarannya. Kalau ada kekurangan fasilitas, kita cari solusinya. Kalau ada keterbatasan kemampuan, kita gotong royong.
Tetapi jangan menyerah sebelum seluruh ikhtiar kita lakukan.
Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk mengambil keputusan terbaik bagi masyarakat Tebo dan Provinsi Jambi.
Redaksi

