Portal Media Online : Hukrim
Tampilkan postingan dengan label Hukrim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hukrim. Tampilkan semua postingan

25 Oktober, 2026

Polisi Amankan Sejumlah Siswa SMKN 1 Tebo Diduga Gangster

 

Sejumlah siswa SMKN 1 Tebo diduga gangster diamankan Polisi

TEBO - Pada hari Jum'at tanggal 23 Oktober 2026 Pukul 10.30 Wib Piket Fungsi Polres Tebo bersama Polsek Tebo Tengah mengamankan sejumlah siswa yang diduga Gangster di SMK N 1 Tebo

Adapun barang bukti yang di amankan 4 buah Senjata tajam jenis 3 buah Celurit dan 1 buah Sisir gergaji.

Menurut pengakuan dari siswa yang diamankan tersebut 
Pada bulan September lalu berdasarkan video geng motor yang viral di Kabupaten Tebo, kelompok Geng Barat Enjoy menerima ajakan/tantangan dari kelompok geng motor asal Kabupaten Bungo untuk melakukan aksi tawuran di area Pal 12, namun tawuran tersebut batal terjadi.

Pukul 11.30 Wib Para siswa membuat surat pernyataan untuk tidak terlibat kembali ke dalam kelompok gangster di Kab. Tebo, didampingi oleh orang tua masing-masing.

Kapolsek Tebo Tengah,Iptu Rhomadian membenarkan, anggota telah mengamankan sejumlah siswa SMKN 1 Tebo yang diduga merupakan kelompok gangster. 'iya benar anggota kita, baik dari Poksek Tebo Tengan dan Polres Tebo sudah mengamankan sejumlah siswa SMKN 1 Tebo beserta barang bukti berupa sajam," terang Kapolsek.

Redaksi

21 Oktober, 2026

Orang Tua Lapor Polisi Gegara Tak Terima Anaknya Disetubuhi Pacar

 

Pelaku Persetubuhan JH Diamankan Polisi Guna Mempertanggung jawaban perbuatannya

TEBO - Seorang remaja 18 tahun inisial JH ditangkap polisi karena nekat menyetubuhi pacarnya yang masih berusia 17 tahun.

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Frasetyawan mengatakan remaja inisial JH ditangkap di salah satu rumah Rabu (20/10/26)..

Penangkapan bermula ketika orang tua korban mengetahui anaknya tidak berada di tempat magang di Kota Jambi.

Peristiwa tersebut bermula pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, saat pelapor menjemput anaknya yang sedang menjalani magang di Kota Jambi. 

Namun, setibanya di lokasi, pelapor mendapati anaknya sudah tidak berada di tempat magang. Pelapor kemudian mencoba menghubungi nomor telepon anaknya, tetapi tidak aktif. 

Merasa khawatir, pelapor selanjutnya mendatangi Polresta Jambi untuk meminta bantuan guna mengetahui keberadaan anaknya.
Setelah dilakukan penelusuran, keberadaan anak pelapor diketahui berada di wilayah Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. 

Pelapor kemudian menuju Polsek Rimbo Bujang untuk melakukan pencarian. Petugas akhirnya menemukan korban di Jalan 21, Desa Perintis, tepatnya di rumah terlapor. Saat dimintai keterangan, korban mengaku telah disetubuhi oleh terlapor. 

Atas kejadian tersebut, pelapor merasa dirugikan dan melaporkannya ke Polres Tebo untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Prasetyawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengamankan terduga pelaku setelah menerima laporan terkait dugaan tindak pidana tersebut. Terduga pelaku berinisial JH, yang masih berusia 18 tahun dan merupakan warga Kecamatan Rimbo Bujang, kini telah ditahan di Polres Tebo untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

"pengakuan pelaku (JH), ini dilakukannya sebanyak dua kali kepada pacarnya," sebut Kasat.

Atas dugaan perbuatannya, JH disebut dikenakan Pasal 473 ayat (2) huruf b KUHP dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun penjara serta Pasal 415 huruf b KUHP dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun penjara. Meski demikian, proses hukum masih berjalan dan status JH sebagai terduga pelaku harus tetap dihormati sesuai asas praduga tak bersalah.

Redaksi

17 Oktober, 2026

Polisi Temukan Empat Paket Sabu di Tegah Kebun Warga

Polisi Grebek Sarang Narkoba di Kebun Warga

TEBO – Operasi gabungan Opsnal  Satnarkoba, Satintelkam Polres Tebo dan Posek Tebo Ulu menggerebek lokasi diduga sebagai sarang narkoba  jenis sabu. Gubuik yang  dijadikan tempat transaksi dan pesta narkoba berada di tengah kebun warga, tepatnya di RT 01, Teluk Pandan, Desa Rambahan, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, Jambi, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kabag Ops Polres Tebo, Jeky. Petugas melakukan penyisiran di sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat penyalahgunaan narkoba. Dalam operasi tersebut, petugas membongkar dan memusnahkan sebuah gubuk yang berada di lahan pertanian milik warga dan diduga digunakan sebagai tempat berkumpul untuk mengonsumsi narkoba.

Saat dikonfirmasi, Kabag Ops Polres Tebo, Jeky, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya membersihkan lokasi yang diduga menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Menurutnya, operasi itu dilaksanakan sebagai tindak lanjut atas instruksi Kapolri.

Jeky menjelaskan, dari hasil pemeriksaan di lokasi pertama, petugas tidak menemukan barang yang diduga narkotika. Meski demikian, petugas tetap melakukan pemusnahan terhadap gubuk yang diduga dijadikan tempat pesta sabu-sabu. Setelah itu, tim bergerak menuju Desa Bambu, tepatnya di Dusun Ladang Panjang, untuk melakukan pemeriksaan serupa.

Di lokasi kedua, petugas kembali menghancurkan sebuah tempat yang diduga dijadikan sebagai markas penyalahgunaan narkoba. Dalam kegiatan tersebut, petugas menemukan empat paket kecil yang diduga berisi narkotika jenis sabu-sabu. 

Temuan tersebut menjadi bagian dari upaya penindakan terhadap dugaan penyalahgunaan dan peredaran narkoba di wilayah Kabupaten Tebo. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai pihak yang diduga memiliki barang tersebut maupun perkembangan penanganan kasusnya.

Redaksi

Penertiban PETI di Desa Teluk Pandak, Dihadang Pasukan Berdaster

  

Pasukan berdaster emak-emak di Desa Teluk Pandak hadang polisi saat penertiban PETI, Sabtu (6/10/26)

TEBO - Pemandangan tak lazim terlihat saat anggota polisi dari Polres Tebo dan Polsek Tebo Tengah menggelar operasi penertiban PETI di Desa Teluk Pandak Kec Tebo Tengah, Sabtu, (16/10/26). Pasalnya puluhan anggota polisi saat hendak patroli ke lokasi PETI, sontak dikagetkan dengan penghadangan sejumlah pasukan berdaster (emak-emak). Operasi penertiban PETI ini Untuk menindaklanjuti instruksi Kapolres Tebo tentang Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

"pak polisi ke ilir, kami ikut jugo ke ilir. pokoknyo pak polisi terjun ke aek kami ngikut jugolah," sebut emak-emak dengan lantang.

Emak - emak yang memakai pakaian serba kuning, sedianya menunggu anggota di pinggir jalan. Yqng hendak ke Sungai Batanghari hingga masuk kedalam wilayah Desa Teluk Pandak.

Kapolsek Tebo Tengah Iptu Rhomadian mengaku, mereka menolak penertiban yang dilakukan anggota. Namun tetap mengecek ke Sunga Batanghari, dan ternyata tidak ada lagi rakit. Hanya ditemukan galon yang mengambang. Saat pengecekan pun, emak - emak itu juga ikut anggota untuk itu dilakukan himbauan.

"Kita ke sana tidak ada lagi dompeng sehingga himbauan disampaikan ke ibu - ibu itu, agar tidak mendompeng karena merusak lingkungan," ungkapnya. Sabtu (17/10/2026).

Kendati demikian, tampaknya mereka tetap menolak saat diberi himbauan dan berkilah untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari. Sehingga, anggota kembali ke kantor Polres Tebo.

Redaksi




13 Oktober, 2026

Rusak dan Serobot Lahan Warga, PT Montdor Oil dan Olindo Dilaporkan ke Polres Tebo

 

PH Marzuki laporkan PT Montdor Oil dan Olindo serta Pemdes Kunangan ke Polres Tebo

TEBO-Pengerusakan dan penyerobotan lahan Warga atas hak milik Marzuki yang dilakukan oleh PT Montdor dan Olindo berujung pada pelaporan ke Polres Tebo. Hal ini disampaikan Penasehat Hukum Marzuki Leo Siahaan dan Adliansyah kepada media ini.

"Sudah sudah kita laporkan ke Polres Tebo. ada lengkap LP nya nanti saya sampaikan, Kata Adliansyah dikonfirmasi melalui saambungan seluler, Senin (12/10/26).

Adlin menyampaikan laporan tersebut tindak lanjut atas pengaduan klien kami atas nama Marzuki, yang mana lahan milik Marzuki sudah di rusak dan diserobot oleh PT Monrdor dan Olindo. LP resmi dengan nomor:STBPP/102/X/2026/SPKT/POLRES TEBO POLDA JAMBI tertanggal 12 Oktober 2026 diharapkan segera ditindak lanjuti oleh pihak polisi

Adlin mengatakan bahwasanya Tanah milik warga Desa Kunangan, Kecamatan Tebo Ilir, atas nama Marzuki, diduga diserobot oleh perusahaan migas PT Montdor Oil dan Olindo untuk proyek pemasangan jaringan pipa gas.

Ironisnya, menurut keterangan kuasa hukum korban, pengerjaan penggalian dan penimbunan pipa tersebut diduga dilakukan secara diam-diam pada malam hari, tanpa sepengetahuan pemilik lahan.

Dikerjakan Malam Hari, Warga Tak Bisa Halau

Kuasa Hukum Marzuki, Leo Siahaan and Partner, Adlinsyah, mengatakan pihaknya menemukan fakta janggal di lapangan setelah menerima kuasa dari kliennya dua hari lalu.

"Yang kami lihat dan sampaikan di lapangan, ditanyakan dengan beberapa warga setempat, pengerjaan lahan milik klien kami dilakukan pada malam hari. Makanya tidak ada yang bisa menghalau kegiatan tersebut sehingga pada saat kami datang ke lokasi ternyata sudah ditanami pipa dan ditimbun," beber Leo Sabtu (10/10/2026).

Ia menyebut, saat tim kuasa hukum turun ke lokasi, bekas galian dan timbunan tanah untuk jalur pipa masih terlihat jelas. Bahkan, aktivitas pekerja sudah selesai di atas lahan tersebut.

Diduga Ada Peran Pemdes, Tanpa Izin dan Tanpa Ganti Rugi

Leo menegaskan, kliennya sama sekali tidak pernah memberikan izin, baik secara lisan maupun tertulis, kepada pihak perusahaan maupun Pemerintah Desa (Pemdes) Kunangan.

"Klien kami sudah menyerahkan kuasa terhitung sejak dua hari lalu, bahwa terkait dengan tanah klien kami yang diduga diserobot oleh PT Montdor Oil ataupun Olindo, diduga ada perannya Pemdes Kunangan," ujar Leo.

"Kita sudah turun ke lokasi, murni ada penggalian yang dilakukan oleh PT Montdor dan Olindo atau pihak Pemdes Kunangan yang diduga telah memberikan izin, sehingga tanah klien kami dilakukan pengerukan untuk penanaman pipa tersebut," lanjutnya.

Padahal, menurut pengakuan Marzuki, ia sudah beberapa kali ditemui oleh pihak perusahaan dan Pemdes untuk dimintai izin, namun ia dengan tegas menolak.

"Ketika ditanyakan ke klien kami ternyata tidak pernah memberi izin atau mendapat tali asih juga ganti rugi dari PT tersebut. Berdasarkan penuturan klien kami, beberapa kali ditemui dari pihak PT maupun Pemdes, dari keterangan klien kami tetap tidak memberikan izin," tegas Leo.

Artinya, tidak ada proses jual beli, tidak ada ganti rugi, dan tidak ada tali asih yang diterima pemilik sah, namun pipa sudah tertanam di lahannya.

Somasi dan Plang Peringatan Tak Digubris, Dilaporkan ke Polres Tebo

Sebagai bentuk peringatan, pihak kuasa hukum mengaku telah melayangkan somasi resmi kepada perusahaan dan memasang plang kepemilikan serta plang peringatan di atas lahan tersebut. Namun, somasi tersebut diduga tidak diindahkan.

"Tindak lanjut dari kami sudah layangkan somasi dan membuat plang peringatan terhadap lahan tersebut. Pada saat turun ke lokasi/lapangan mereka masih melakukan aktivitas," ungkapnya.

Tak tinggal diam, Leo memastikan akan membawa persoalan ini ke ranah hukum pidana.

"Dalam waktu dekat kami akan melakukan upaya hukum untuk tindak pidananya, diduga berkaitan dengan penyerobotan lahan Pasal 385 KUHP, pengerusakan lahan Pasal 406 KUHP, maupun pelanggaran Undang-Undang Migas ke Polres Tebo," pungkasnya.

Redaksi

06 Oktober, 2026

BSI Tersenyum, Uang Rp 3,8 Miliar Dikembalikan Jaksa

 

Pasca penyerahan uang senilai Rp 3,8 miliar Kajari dan pimpinan PT BSI foto bareng

TEBO - Senyum lebar terlihat dari pimpinan Manajemen PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Pasalnya barang bukti uang tunai senilai Rp3.825.022.282,85 dikembalikan oleh Kejari Tebo, kepada PT Bank Syariah Indonesia (BSI), pada Selasa (6/10/2026).

Pengembalian uang tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan putusan dalam perkara Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Jambi Rimbo Bujang 1 periode tahun 2021.

Berdasarkan siaran pers Kejari Tebo, pelaksanaan eksekusi tersebut mengacu pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 7477 K/Pid.Sus/2026 tanggal 15 Juli 2026. Dalam putusan tersebut, barang bukti berupa uang tunai diperintahkan untuk dikembalikan kepada PT Bank Syariah Indonesia (BSI).

Adapun uang yang dikembalikan terdiri dari dua sumber, yakni:

Pertama, uang angsuran pokok yang telah dibayarkan oleh 26 orang nasabah BSI KCP Jambi Rimbo Bujang 1 per 24 Januari 2025. Uang tersebut menjadi temuan audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara (PKKN) oleh BPKP Perwakilan Provinsi Jambi berdasarkan Surat Nomor PE.03.03/SR-46/PW05/5/2025, dengan nilai Rp2.397.258.168,85.

Kedua, uang pembayaran klaim asuransi yang telah dibayarkan oleh Askrindo Syariah dan Jamkrindo Syariah kepada BSI, yang juga menjadi bagian dari temuan audit PKKN BPKP Perwakilan Provinsi Jambi. Nilainya mencapai Rp1.427.764.114,00.

Dengan demikian, total uang tunai yang dieksekusi dan dikembalikan kepada pihak BSI mencapai:
Rp3.825.022.282,85

(Tiga miliar delapan ratus dua puluh lima juta dua puluh dua ribu dua ratus delapan puluh dua rupiah delapan puluh lima sen).

Pengembalian barang bukti tersebut dilaksanakan di Muara Tebo, Selasa 6 Oktober 2026, sebagai bagian dari tahapan eksekusi putusan perkara tindak pidana korupsi.

Dalam perkara korupsi pembiayaan KUR BSI KCP Jambi Rimbo Bujang 1 periode 2021 tersebut, Kejari Tebo menyebut terdapat dua terpidana yang telah dilakukan eksekusi pidana pokok berupa pidana penjara.

Keduanya yakni Ermalia Wendi binti Akmal, selaku eks Branch Manager BSI KCP Jambi Rimbo Bujang 1, serta Mardiantoni bin Muhtar M, selaku eks Micro Staff BSI KCP Jambi Rimbo Bujang 1.

Selain dua terpidana tersebut, dalam perkembangan perkara juga terdapat satu orang terdakwa berinisial H.A.P. yang disebut turut terlibat dalam perkara tindak pidana korupsi pembiayaan KUR BSI KCP Jambi Rimbo Bujang 1 periode 2021.

Saat ini, perkara terdakwa H.A.P. disebut sedang dalam proses pelimpahan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jambi.

Tahap pengembalian uang tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara yang berkaitan dengan pembiayaan KUR BSI tersebut.

Dalam kegiatan eksekusi itu turut hadir Kepala Kejaksaan Negeri Tebo Dr. Alfian Bombing, S.H., M.H., perwakilan Bank Syariah Indonesia dari pusat, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus), Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel), serta Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Tebo.

Kejari Tebo melalui siaran persnya menyampaikan bahwa pelaksanaan eksekusi dan pengembalian barang bukti tersebut merupakan bagian dari capaian kinerja Tim Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Tebo dalam penanganan perkara tindak pidana khusus.

Dari perkara KUR BSI Rimbo Bujang, uang Rp3,825 miliar kini resmi dikembalikan kepada pihak Bank Syariah Indonesia melalui tahapan eksekusi Kejaksaan Negeri Tebo.

Redaksi

01 Oktober, 2026

Terungkap Modus Oknum Guru Honorer SD di Tebo Cabuli Murid

 

Pelaku H (44) Oknum guru honorer SD di Tebo Tengah ditahan Polisi 

TEBO - Polisi langsung menahan H (44), oknum guru honorer di sebuah Sekolah Dasar (SD) Kec Tebo Tengah. Penahanan tersangka H didasari atas dua alat bukti yang ada.

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Frasetyawan menyebutkan, pasca penyidik melakukan gelar perkara dan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, oknum guru H langsung dijemput dirumahnya pada, Senin (28/9/2026). Dihadapan penyidik H tidak dapat mengelak dan mengakui semua perbuatannya. "Tersangka H tidak melakukan perlawanan dan cukup koperatif," kata Very.

Disampaikan Very, modus pelaku H yakni, mengajak salah satu korban ke rumah pelaku dengan alasan untuk mengambil buku. "TKP nya dirumah pelaku, disaat jam pelajaran di sekolah," kata Kasat.

Sementara untuk korban sendiri semuanya ada dua orang, yakni 1 perempuan dan 1 laki-laki. untuk mempertanggung jawaban perbuatan, pelaku H dikenai pasal 418 dengan ancaman kurungan penjara selama 12 tahun.

Redaksi

25 September, 2026

Naik Tahap Sidik, Oknum Guru Cabul di Tebo Perdaya Korban dengan Iming-Iming

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Frasetyawan dan Kanit PPA Polres Tebo, Jumat, (25/9/26)

TEBO - Kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang oknum guru honorer disalah satu Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Tebo kini sudah memasuki tahap penyidikan (sidik). Hal ini disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Frasetyawan didampingi Kanit PPA Polres Tebo, Jumat (25/9/2026) diruangannya.

Kasat menyanpaikan jika perkembangan kasus yang mencoreng dunia pedidikan di Tebo kini terus berlanjut. Pasalnya pada proses penyelidikan tahan awal, penyidik sudah memanggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan.

"sudah ada 6 saksi, yakni korban 3 orang dan 3 orang dari orang tua korban yang kita panggil untuk kita gali keterangannya," sebut Kasat meyakini.

Pasca prasidik, rencanaya pihak penyididk bakal menjadwalkan pemanggilan beberapa saksi guna menguatkan proses penyidikan. Ini disampaikan Kasat melengkapi berkas penyidikan dan ditakutkan bakal bertambah korban oknum guru.

"senin kita jadwalkan lagi pemanggilan saksi, ya tidak tertutup kemungkinan kita juga koodinasi dengan pihak dinas PPA sebagai pendampingan," ujarnya.

Saat disinggung sejak kapan kejadian dugaan pelecehan tersebut dilakukan dan apa motif dari oknum guru hingga tega merusak masa depan korban, Kasat bilang kejadian sudah dilakukan sejak kotban masih duduk di kelas 3. sementara motif oknum guru memperdaya korban yakni dengan mengiming-imingi sesuatu.

"korban diiming-imingi sesuatu oleh oknum," kata Kasat pasca saksi korban diperiksa.

Sementara lanjut Kasat jika oknum guru tersebut terbukti bersalah, kepada oknum bakal dikenakan pasal perlindungan anak yakni pasal 418  dan 415, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara.

Redaksi

24 September, 2026

Tolak PETI, Warga Puntikalo Desak Polisi Usut Pemicu Konflik Antar Desa

Lokasi jalan desa Puntikalo yang hancur akibat aktifitas PETI

TEBO - Warga Desa Punti Kalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, kembali menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) menggunakan rakit dompeng. Pada Kamis (24/9/2026), sejumlah warga menyebut ada dugaan keterlibatan mantan Kepala Desa Puntikalo dalam aktivitas PETI. Warga juga menduga yang bersangkutan memiliki tempat pembakaran emas sekaligus rakit dompeng. 

Kendati demikian dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dan pembuktian dari pihak berwenang. Tak hanya persoalan aktivitas PETI, warga juga menyoroti dampak yang ditimbulkan akibat aktifitas PETI. Bukan hanya kerusakam lingkungan sungai Batanghari, nanum kerusakan lain tidak kalah parah yakni, hancurnya akses penghubung jalan yang digunakan warga untuk beraktifitas.

Menurut warga, sejumlah rakit dompeng diduga telah beroperasi di wilayah tersebut dan aktivitasnya menyebabkan kerusakan jalan lingkungan. Bahkan, jalan cor beton yang menjadi akses masyarakat disebut mengalami kerusakan hingga terputus akibat aktivitas tersebut.

Warga menegaskan bahwa masyarakat Desa Puntikalo menolak adanya aktivitas PETI di wilayah mereka. Salah seorang warga mengatakan, keberadaan Sungai Batanghari sejak dahulu menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat dan menurut pemahaman warga setempat tidak semestinya digunakan untuk aktivitas dompeng. 

"Dari nenek moyang, Sungai Batanghari ini tidak boleh didompeng," ujar warga.

Konflik antara masyarakat Desa Puntijalo dan Desa Teluk Langkap terkait aktivitas PETI juga disebut telah berlangsung berulang kali. Mulai dari penangkapan rakit dompeng hingga pekerja yang diduga terlibat aktivitas tersebut telah terjadi. Warga Punti Kalo meminta aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas dan menyelesaikan persoalan tersebut agar konflik tidak terus berulang di tengah masyarakat.

Warga juga menagih janji Bupati Tebo yang sebelumnya disebut akan menurunkan personel kepolisian dan TNI untuk menjaga wilayah perbatasan yang menjadi titik rawan konflik antara Desa Punti Kalo dan Desa Teluk Langkap. Masyarakat berharap kehadiran aparat tidak hanya dilakukan saat terjadi penangkapan atau konflik, tetapi juga melalui pengawasan secara berkelanjutan sehingga aktivitas PETI dan potensi gesekan antar warga dapat dicegah.

Redaksi

Setengah Hati, Warga Puntikalo Tanya Ketegasan Aparat dan Pemda

 

Rakit Dompeng yang diamankan Warga Desa Puntikalo beberapa waktu lalu

TEBO - Kekesalan warga Desa Puntikalo sudah diatas ubun-ubun. Pasalnya belasan rakit dompeng yang sebelumnya beraktifitas di Desa Teluk Langkap kini mulai bergeser memasuki Desa Puntikalo.

Warga sudah tidak percaya ligi dengan penindakan hukum yang dilakukan oleh aparat. Aktifitas dompeng sudah semakin merajalela, pendangkalan dan hancurnya tebing sungai sudah sangat kronis.

" warga lah kesal nian, sekarang warga akan bertindak sendiri. kalau persoalan dompeng tidak pernah ditanggapai. akan kami tangkap dan bakar rakit yang berani masuk wilayah kami (puntikalo)," ujar Waga Puntikalo yang namanya tidak mau viral.

Selama ini perangkat desa dan warga Puntikalo sudah menahan sabar. Pasalnya beberapa kali giat mediasi namun kerap menemui jalan buntu atau no solution. "Koordinasi antar desa sudah dilakukan, tapi macam angin lalu be. Mako kini lah geram, gawe nih buat pening be' katanya lagi.

Sementara ini Desa Puntikalo berharap kepada Kades dan perangkat Desa Teluk Langkap untuk melakukan tindakan preventif kepada warganya. "Kades Teluk Langkap harus tegas, himbau warganya jangan berdompeng melewati batas desa," sebutnya.

Dirinya juga berharap kepada Pemkab Tebo dalam hal ini bupati untuk merespon aktifitas dompeng yang sudah meresahkan di desa-desa. "jadi kami mohon kepada bupati, kami menunggu janji bupati untuk menurunkan anggota polisi dan TNI di lokasi desa konflik,: kata warga pasca mediasi konflik dompeng di batas desa.

Redaksi S

23 September, 2026

Korban Cabul Oknum Guru SD di Tebo Enggan Masuk Sekolah

 

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Prasetyawan

TEBO - Korban pencabulan oleh seorang oknum guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Tebo enggan masuk sekolah. Pasalnya, sebut saja Bunga, hingga saat ini merasa trauma dan ketakutan atas tindakan pencabulan yang dilakukan seorang guru.

Oknum guru bejat tersebut informasinya sudah melakukan perbuatan cabul kesejumlah anak yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD).

Menurut keterangan dari beberapa sumber, dugaan tersebut melibatkan beberapa anak, di antaranya dua anak perempuan serta seorang anak laki-laki. Dugaan tersebut kini menjadi perhatian wali murid dan masyarakat setempat.

Salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, persoalan tersebut sudah diketahui oleh sejumlah warga di desa setempat. Bahkan, menurutnya, pernah dilakukan pertemuan di salah satu rumah untuk membahas persoalan tersebut. 

Warga tersebut berharap dugaan kasus ini segera ditindaklanjuti oleh pihak Kepolisian Resort (Polres) Tebo agar persoalan tersebut dapat diketahui kebenarannya melalui proses pemeriksaan yang sesuai dengan ketentuan hukum
.
“Harapan kami pihak kepolisian segera menindaklanjuti persoalan ini. Informasinya anak yang diduga menjadi korban juga sudah tidak bersekolah lagi,” ujar warga tersebut. 

Ia menambahkan, masyarakat meminta agar identitas anak yang diduga menjadi korban tetap dilindungi dan proses penanganannya dilakukan secara serius demi kepentingan serta keselamatan anak.

Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai dugaan tersebut, kepala sekolah SD yang bersangkutan membantah informasi tersebut. Kepala sekolah menyebutkan bahwa dugaan pelecehan sebagaimana yang disampaikan warga itu tidak benar.

Saat dikonfirmasi Kasat Reskrim Polres Tebo AKP, Very Prasetiawan membenarkan, unit ppa sudah memeriksa korban. "Hari Jumat akan kita jadwalkan pemanggilan terhadap Kepsek dan guru, untuk diminta keterangan," ungkap Kasat saat ditemui di ruang kerjanya.

Redaksi

07 September, 2026

Dua Rakit Domfeng Diamankan Warga Puntikalo

 

Dua Rakit Domfeng diamankan warga Desa Puntikalo Kec Sumay Tebo

TEBO - Warga Desa Puntikalo gerah terhadap aktivitas dompeng di wilayahnya. Geram dengan aktivitas tersebut, dua rakit dompeng diamankan warga.

Kades Puntikalo Fahrizal,membenarkan jika pada Senin (8/9/26) sekitar pukul 04.00 warga langsung menangkap pekerja dompeng dan rakit.

" iya satu kita amankan dan satunya berhasil kabur. barang bukti dan pelaku sudah kita laporkan ke Polres," kata kades meyakini.

Pelaku yang diamankan yakni RD domisili Desa Puntikalo. informasinya pelaku warha Desa Puntikalo dan warga Teluk Langkap.

'Sedangkan dua rakit dompeng masih berada di desa. Rencananya bakal kita musnahkan selanjutnya kita serahkan ke Polres sebagai barang bukti," sebut Kades.

Kades menambahkan jika pihaknya juga sudah memberi garis polisi dilokasi berbeda. Ini dimaksudkan jika lokasi tersebut dalam proses penyelidikan polisi.

Sementara itu Kades juga melarang keras adanya aktivitas domfeng di wilayahnya. Jika ada warga Puntikalo atau pendatang coba mendomfeng jangan salahkan jika pihak aparat desa memproses hukum.

Redaksi

06 September, 2026

Korupsi APBDes Sungai Pandan, Camat Rimbo Ulu belum di Panggil Jaksa

 

Kasus Korupsi APBDes Sungai Pandan, jaksa taban mantan Kades dan bendahara

TEBO - Korupsi APBDes Sungai Pandan Kec Rimbo Ulu menyisahkan tanda tanya besar di ruang publik. Pasalnya pasca penahanan AF mantan Kades dan PW mantan bendahara Sungai Pandan hingga kini penyidik kejaksaan belum memanggil Camat Rimbo Ulu, Joko Kisworo.

Korupsi APBDes tahun anggaran 2023 hingga 2024 yang mencapai angka fantastis Rp 1,16 miliar tersebut baru terjadi di Kabupaten Tebo. Namun seiring dalam kasusnya, kecurigaan publik menguat jika kasus tersebut tidak sebatas mantan kades dan bendahara namun ada banyak keterlibat pihak lain juga.

"koq kasusnya cuma sampai mantan kades dan bendahara saja. padahal di dalam pencairan dana desa itu ada peran camat, BPD dan dinas, PMD" kata warga yang enggan disebut namanya.

"tolong jaksa panggil juga tuh camat, karena pencairan dana desa itu rekomenasi dia," katanya.

Dia menilai jika penyidik tidak segera memanggil camat atau pihak lain dikuatirkan publik menduga ada permaianan kotor antara APH dan oknum. 

Dirinya menganggap bila camat sebenarnya mengetahui jika berkas yang direkomenasikan cacat tapi tetap meloloskan.

"Camat tetap memberikan rekomendasi pencairan padahal laporan dari tahap sebelumnya belum selesai, fiktif, atau tidak lengkap,"sebutnya.

Ini juga kata dia bisa terjadi jika camat menyalahgunaan wewenang menunda atau mempercepat rekomendasi demi keuntungan pribadi, meminta setoran, pungutan liar (pungli), atau menerima fee/suap dari Kepala Desa agar pencairan berjalan mulus. 

"jelas ini ada pembiaran secara sengaja, Camat mengetahui adanya penyelewengan yang nyata dari pengawasan berkala, namun sengaja membiarkannya demi mendapatkan keuntungan tertentu," pungkasnya.

Redaksi

24 Agustus, 2026

Polisi Buru Oknum Pembakar Truk Sembako di Mangupeh Tengil

 

Truk bermuatan sembako jadi sasaran amuk massa

TEBO - Insiden kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di Desa Mangupeh, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Sabtu (22/8/2026), berujung pada aksi pembakaran terhadap sebuah truk bermuatan sembako.

Peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan persoalan kecelakaan lalu lintas, tetapi juga memunculkan persoalan hukum baru. Sebab, kendaraan truk yang terlibat kecelakaan diduga dibakar oleh oknum dari massa setelah pengemudinya meninggalkan lokasi untuk menyelamatkan diri dari amukan warga.

Kepolisian kini dituntut untuk mengusut tuntas siapa saja yang terlibat dalam aksi pembakaran tersebut.

Informasi yang dihimpun, kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Truk bermuatan sembako diketahui melaju dari arah Jambi menuju Tebo. Dari arah berlawanan, datang seorang pengendara sepeda motor yang melaju dari arah Tebo menuju Jambi.

Tabrakan antara kedua kendaraan tersebut terjadi di wilayah Desa Mangupeh. Pengendara sepeda motor diduga meninggal dunia di lokasi kejadian akibat kerasnya benturan.

Situasi kemudian memanas. Sopir truk yang kuatir menjadi sasaran amukan massa memilih meninggalkan kendaraannya dan menuju Polsek Tengah Ilir untuk menyelamatkan diri.

Tak lama berselang, truk yang ditinggalkan di lokasi kecelakaan tersebut diduga dibakar oleh oknum massa.

Kapolsek Tengah Ilir AKP Dedi Tanto Manurung membenarkan adanya kecelakaan lalu lintas tersebut. Menurutnya, berdasarkan keterangan awal dari sopir, kendaraan melaju dari arah Jambi menuju Tebo, sementara sepeda motor datang dari arah berlawanan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tebo AKP Rimhot Nainggolan menegaskan bahwa pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan terhadap dugaan pembakaran kendaraan tersebut.

Polisi akan menelusuri siapa saja yang berada di lokasi saat kejadian, mengumpulkan keterangan para saksi, memeriksa bukti-bukti yang ada serta mendalami rekaman maupun dokumentasi yang dapat membantu mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat.

“Peristiwa kecelakaan merupakan satu perkara. Namun apabila benar terjadi pembakaran terhadap kendaraan, maka tindakan tersebut merupakan perkara lain yang juga harus diusut,” tegasnya.

Kepolisian tidak ingin aksi massa tersebut berhenti sebatas kerusakan kendaraan. Jika ditemukan adanya unsur kesengajaan dan bukti yang cukup, pihak yang terlibat dalam pembakaran dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai proses hukum yang berlaku.

Kini fokus penyelidikan bukan hanya mencari tahu penyebab kecelakaan, tetapi juga mengungkap siapa pelaku pembakaran truk tersebut. Polisi diharapkan segera mengidentifikasi dan memproses pihak-pihak yang terbukti melakukan tindakan tersebut.

Akibat kecelakaan dan insiden pembakaran, arus lalu lintas di kawasan tersebut sempat mengalami kemacetan. Namun setelah proses penanganan dilakukan, situasi lalu lintas berangsur kembali normal.

Kasus kecelakaan sendiri ditangani oleh Satlantas Polres Tebo untuk proses penyelidikan lebih lanjut, sementara dugaan aksi pembakaran menjadi bagian yang turut didalami aparat kepolisian.

Redaksi

23 Agustus, 2026

Tabrak Pemotor, Truk Sembako Ludes Dibakar Massa

 

Truk sembako dibakar massa usai tabrak pemotor hingga MD

TEBO - Satu unit truk yang mengangkut sembako, diduga di bakar massa. Tepatnya di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), di Desa Mengupeh, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo. Pada Sabtu (22/08/2026).

Kapolsek Tengah Ilir AKP Dedi Tanto Manurung mengatakan, dari keterangan sopir truk. Ia datang dari arah Jambi hendak ke Tebo. Sedangkan dari arah sebaliknya, pengendara roda dua.

"Truk datang dari arah Jambi menuju Tebo, sedangkan dari arah sebaliknya datang sepeda motor. Kerasnya hantaman membuat pengendara sepeda motor terpental, dan meninggal dunia," ungkapnya.

Khawatir akan di amuk massa, sopir truk menumpang sepeda motor yang melintas ke arah Jambi. Untuk menyelamatkan diri, dengan melapor ke Polsek Tengah Ilir.

Sedangkan, pihak kepolisian meminta bantuan ke Pos Damkar Tebo Ilir. Untuk memadamkan api di truk tersebut. Perkara ini, telah ditangani pihak Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tebo.

Redaksi

17 Agustus, 2026

Pasir Mayang Proses, Tambun Arang On Target

 

Ilustrasi

TEBO - Proses penyelidikan Kades Pasir Mayang oleh Tim Tipikor Poltes Tebo masih berlangsung. Pasalnya penyidik tipikor terus menggali informasi dan berkoordinasi dengan inspektorat.

Hasil pemeriksaan oleh penyidik menemukan adanya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Kades Pasir Mayang dalam alokasi dana desa. Hal ini diperkuat dengan temuan hasil laporan audit BPKP beberapa waktu lalu. Selain laporan audit BPKP penyidik juga bilang pihaknya juga menerima adanya laporan dari warga yang menyebutkan Kades Pasir Mayang telah menyalagunakan kewenangan dalam alokasi dana desa.

Kasat Reakrim Polres Tebo, Iptu Rimhot Nainggolan membenarkan jika penyidik bakal segera memproaes hasil temuan dan laporan warga terhadap Kades Pasir Mayang. Temuan dana desa tahun anggran 2023 hingga 2024 tersebut kata Kasat telah merugikan negara mencapai ratusan juta.

"yang pasir mayang harus cepat naik, dan ini juga atensi dari pimpinan untuk segera dipercepat," sebut Kasat.

Disinggung terkait adanya temuan silpa yang dilaporkan warga kepada kades Tambun Arang Kec Sumay,  Kasat tidak menampik hal itu sudah masuk dalam daftar tunggu. :kalau yang Tambun Aramg sudah masuk daftar, mungkin setelah pasir mayang  selesai  baru lanjut yang tambun Arang," ungkap Kasat.


Redaksi

Polsek Panggil Pihak BRI dan Tetangga Korban Penipuan oleh Oknum ASN DLHP Tebo

 

Kanit Reskrim Polsek Tebo Tengah, Ipda Eldian

TEBO - Pemyidik Reskrim Polsek Tebo Tengah terus mengali keterangan dari para saksi yakni pihak BRI Cab Rokan Ulu dan saksi tetangga korban  penipuan. Ini di sampaikan Eldian Kanit Reskrim Polsek Tebo Tengah pasca dilayangkan pemanggiran kepada para saksi.

"jadwalnya kita panggil dalam minggu ini kalau tidak salah tanggal 20an. Saksi dari pihak BRI Cab Rokan Ulu dan saksi tetangga pelapor. mereka domisili di Rokan Ulu," kata Eldian meyakini.

Sambung Eldian pihak Bank BRI sudah terkondirmasi bahwa pada pemanggilan nanti bisa hadir untuk dimintai keterangan. Artinya penyidik hanya meminta bukti rekening koran dan meilhat apakah ada transaksi antara korban dan oknum ASN DLHP Tebo. Pasalnya kata Kanit korban salah satu nasabah bank BRI Cab Rokan Ulu.

Sementara untuk saksi kedua diakui Kanit sebagai tetangga korban yang menghubungkan korban dan oknum ASN DLHP Tebo. "Saksi ini juga dijadwalkan akan dipanggil minggu ini," sebut Kanit.

Disinggung soal apakah terlapor atau oknum ASN DLHP Tebo sudah dataang memenuhi panggilan, Kanit bilang sejak panggilan dilayangkan yang bersangkutan manggkir tidak datang. "ini bakal kita lakukan pemanggilan ulang untuk terlapor. jadwalnya diperkirakan setelah pemanggilan saksi dari BRI dan tetangga korban," katanya.

Diberitakan sebelumnya  EW Oknum ASN DLHP Tebo melakukan penipuan terhadap korban S dan F dengan modus menjanjikan pekerjaan di lingkup pemkab Tebo. Korban diminta untuk menyetorkan sejumlah uang kepada oknum EW sebesar Rp 80 juta sebagai persyaratan admianistasi.

Redaksi

13 Agustus, 2026

Minta Polisi Tetapkan Manajemen PT Makin Grup dan ABK Ponton jadi Tersangka

Penyidik Polsek Tebo Ilir Olah TKP pasca insiden truk dan beko loader jatuh ke sungai

TEBO - Dugaan kelalaian dalam insiden jatuhnya satu unit truk dan satu unit alat berat jenis beko loader milik PT Makin Group ke Sungai Batanghari pada Minggu (9/8/2026) masih menjadi tanda tanya  publik . Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang operator meninggal dunia.

Kanit Reskrim Polsek Tebo Ilir, Ipda Priadi, mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan sudah mengejar perkara, dan sejauh ini mencari saksi yang mengetahui maupun berada di lokasi kejadian. “Untuk saat ini kita masih mengambil keterangan terhadap saksi,” ujarnya.

Menurutnya, penyidik masih mendalami seluruh rangkaian kejadian, masih mendalami proses. Selain pemeriksaan saksi, pihak kepolisian juga masih melakukan proses evakuasi terhadap kendaraan truk dan beko loader yang jatuh ke sungai.

Selain kanit reskrim polsek tebo ilir " Warga juga  menilai Insiden tersebut menjadi perhatian publik karena selain menyebabkan kerugian material, satu orang operator dilaporkan meninggal dunia. Terlihat saat ini Polisi masih mengumpulkan keterangan dan fakta di lapangan untuk mengetahui penyebab pasti jatuhnya kedua kendaraan serta pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum menetapkan manajemen PT Makin Group maupun ABK kapal tongkang penyeberangan sebagai tersangka terkait dugaan kelalaian dalam menjalankan tugas dan bekerja.

Terpisah Ketua Pekat IB Tebo, Romy Hafizon ikut menyoroti insiden truk dan beko loader yang jatuh ke sungai Batanghari tepatnya di dermaga PT Makin Grup, pada Minggu (9/8/26).

Romy bilang, jika insiden tersebut dianggap suatu kelalaian maka ada banyak sanksi bagi perusahaan yg tidak menerapkan SOP keselamatan bagi pekerjanya dari sangsi administratif, denda bahkan kurungan 

"Jika terbukti hal tersebut merupakan pembiaran tentu ada sangsi berat seperti penyetopan izin operasi,"pungkas Romy.


Redaksi

05 Agustus, 2026

Razia PETI Polisi Bakar 3 Rakit Dompeng

3 Rakit Dompeng yang sudah ditinggal pemiliknya dimusnakan polisi, Rabu (5/8/26)

TEBO - paya pemberantasan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Tebo terus digencarkan. Kali ini, Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polres Tebo melaksanakan operasi penertiban di wilayah Desa Mekar Kencana, Unit 6, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo.

Dalam operasi yang dipimpin langsung oleh Kanit Tipiter Satreskrim Polres Tebo, Ipda William, bersama personel Unit Tipiter dan tim Buser, petugas menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi aktivitas PETI.

Saat berada di lokasi, petugas menemukan tiga unit rakit dompeng yang terparkir berjejer di kawasan tersebut. 

Untuk mencegah peralatan itu kembali digunakan dalam aktivitas penambangan ilegal, petugas langsung melakukan tindakan tegas dengan memusnahkan ketiga rakit dompeng tersebut menggunakan cara dibakar di lokasi.

Penertiban ini merupakan bagian dari komitmen Polres Tebo dalam memberantas praktik PETI yang selama ini dinilai merusak lingkungan, mencemari aliran sungai, serta berpotensi menimbulkan berbagai persoalan hukum dan sosial di tengah masyarakat.

Dalam keterangannya di lokasi, Kanit Tipiter Satreskrim Polres Tebo, Ipda William, menegaskan bahwa pihak kepolisian akan terus melakukan patroli dan penindakan terhadap setiap aktivitas penambangan emas tanpa izin yang masih beroperasi di wilayah hukum Polres Tebo.

Selain aparat kepolisian, kegiatan penertiban tersebut juga mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Ketua Pemuda Desa Mekar Kencana mengapresiasi langkah tegas Polres Tebo dalam menindak aktivitas PETI yang dinilai telah memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Polres Tebo mengimbau seluruh masyarakat agar tidak terlibat dalam aktivitas pertambangan tanpa izin. 

Kepolisian juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dengan melaporkan apabila menemukan aktivitas PETI yang masih berlangsung, sehingga upaya penegakan hukum dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Redaksi

28 Juli, 2026

Mantan Kades dan Bendahara Ditahan Jaksa, Terbukti Korupsi APBDes

 

Mantan Kades dan Bendahara Desa Sungai Pandan digelandang ke mobil tahanan Kejari Tebo

TEBO - Kejaksaan Negeri (Kejari) Tebo menahan dua tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Desa Sungai Pandan, Kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo, Tahun Anggaran 2023 dan 2024.

Kedua tersangka adalah AF, mantan Kepala Desa Sungai Pandan, dan PW, mantan Bendahara Desa. Keduanya ditahan selama 20 hari untuk kepentingan penyidikan.
[28/7 10.17] Ade Soe: Menurut dia, penanganan perkara juga telah mengikuti prosedur, termasuk mekanisme sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri terkait penanganan dugaan penyimpangan dana desa.

“Sebelum masuk ke tahap penyidikan, perkara ini terlebih dahulu kami serahkan kepada Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), dalam hal ini Inspektorat Kabupaten Tebo, untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Abdurrahman, Senin, 27 Juli 2026.

Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan Inspektorat bersama tim penyelidik Kejari menemukan adanya pengelolaan administrasi keuangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan temuan tersebut, Kejari meminta AF dan PW mengembalikan dana yang menjadi temuan. Namun, hingga melewati tahun anggaran, permintaan itu disebut tidak dipenuhi.
[28/7 10.18] Ade Soe: Pada November 2025, penyidik menyita uang senilai Rp245 juta yang menurut Kejari berada dalam penguasaan kedua tersangka, masing-masing Rp195 juta dari AF dan Rp50 juta dari PW.

“Uang tersebut telah kami sita dan dititipkan ke rekening penampung (RPL) di Bank Syariah Indonesia hingga proses hukum berkekuatan hukum tetap.
Selanjutnya akan dieksekusi dan dikembalikan ke kas negara sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
[28/7 10.18] Ade Soe: Menurut dia, penyidik kemudian meningkatkan perkara ke tahap penyidikan dengan memeriksa sejumlah saksi, menyita dokumen, serta melakukan penggeledahan untuk melengkapi alat bukti.

Berdasarkan hasil audit penghitungan kerugian keuangan negara, penyidik menyebut dugaan kerugian negara dalam perkara ini mencapai sekitar Rp1,16 miliar. Atas dasar hasil audit dan alat bukti yang telah dikumpulkan, AF dan PW kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Hari ini kami melakukan penahanan terhadap AF selaku mantan Kepala Desa Sungai Pandan dan PW selaku mantan Bendahara Desa. Penahanan dilakukan sesuai prosedur selama 20 hari untuk kepentingan penyidikan,” katanya. Panduan Kota & Daerah

Kedua tersangka disangkakan melanggar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Abdurrahman menegaskan penyidikan masih terus berjalan. Menurut dia, penyidik tidak menutup kemungkinan mengembangkan perkara apabila ditemukan keterlibatan pihak lain berdasarkan alat bukti yang sah.

“Kami akan terus mengembangkan perkara ini sesuai fakta hukum yang ditemukan dalam proses penyidikan,” ujarnya.

Redaksi

Edukasi

Politik

Teknologi