Korban Cabul Oknum Guru SD di Tebo Enggan Masuk Sekolah
TEBO — Wakil Bupati Tebo menghadiri pelayanan perdana pengisian bahan bakar avtur untuk pesawat Batik Air yang dilaksanakan di Bandara Muara Bungo, Rabu (23/9).
Pelayanan perdana ini menjadi bagian dari dukungan terhadap operasional penerbangan Batik Air di Bandara Muara Bungo. Kehadiran layanan pengisian avtur turut menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran operasional penerbangan serta pelayanan transportasi udara di wilayah sekitar.
Redaksi
TEBO — Wakil Bupati Tebo menghadiri sekaligus mengukuhkan Forum Kepatuhan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kabupaten Tebo yang berlangsung di Aula Melati Kantor Bupati Tebo, Selasa (22/9).
Pengukuhan forum ini menjadi langkah untuk memperkuat koordinasi dan sinergi berbagai pihak dalam mendorong kepatuhan terhadap penyelenggaraan jaminan sosial ketenagakerjaan di Kabupaten Tebo.
Melalui forum tersebut, diharapkan komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, serta pihak terkait dapat semakin kuat dalam meningkatkan perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja.
Redaksi
TEBO — Bupati Tebo menghadiri Pelantikan Pengurus Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tebo Periode 2026–2031 yang dilaksanakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tebo, Selasa (22/9).
Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran organisasi Muslimat NU di Kabupaten Tebo, sekaligus mempererat sinergi dalam berbagai bidang kemasyarakatan, keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan keluarga.
Dengan dikukuhkannya kepengurusan periode 2026–2031, diharapkan Muslimat NU Kabupaten Tebo dapat terus berkontribusi melalui program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung penguatan nilai keagamaan dan kehidupan sosial.
Redaksi
TEBO — Wakil Bupati Tebo menghadiri penutupan Open Turnamen Sepak Bola Teriti Cup 2026 yang dilaksanakan di Lapangan Garuda Putih, Desa Teriti, Senin (21/9).
Rangkaian turnamen yang mempertemukan para tim sepak bola tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang olahraga sekaligus mempererat silaturahmi antarpeserta dan masyarakat.
Penutupan turnamen berlangsung dalam suasana meriah dan penuh semangat sportivitas. Kegiatan seperti ini juga menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat, menjaga kebugaran, serta membangun nilai kebersamaan melalui olahraga.
Pemerintah Kabupaten Tebo mengapresiasi terselenggaranya kegiatan olahraga yang melibatkan masyarakat dan berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang sebagai wadah pembinaan olahraga sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.
Redaksi
Bahren Nutdin (f/ist)
PRESIDEN (JUGA) PENDIDIK
Oleh: Bahren Nurdin
(Pengamat Sosial)
Di hadapan para mahasiswa baru, dalam perhelatan kuliah umum beberapa waktu lalu, Saya sampaikakan satu hal yaitu: intelektual harus pandai menjaga tutur kata.
Seorang intelektual tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi ilmunya. Ia juga dinilai dari bagaimana ia berbicara, bagaimana ia berbeda pendapat, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain melalui kata-katanya.
Karena itu, saya cukup prihatin ketika mendengar kembali sejumlah diksi kasar yang keluar dari mulut Presiden Republik Indonesia dalam beberapa kesempatan. Terbaru, pada 18 September 2026 lalu, dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN), Presiden Prabowo Subianto menyebut, “saking pintarnya jadi gobl*k” ketika menyinggung sejumlah pakar yang mengkritik pemerintah.
Sebelumnya, publik juga pernah ramai dengan ungkapan “nd*smu etik” yang disampaikan Prabowo pada 2023. Ungkapan itu ketika itu dijelaskan sebagai kelakar dalam suasana internal dan oleh Prabowo disebut sebagai ungkapan yang biasa digunakan dalam percakapan orang Banyumas. Saya tidak sedang membahas apakah sebuah kata boleh atau tidak boleh digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Dalam ruang pertemanan, mungkin ada bahasa yang dianggap biasa. Tetapi ketika kata-kata itu keluar dari mulut seorang kepala negara dan disampaikan di hadapan publik, persoalannya menjadi berbeda. Presiden memang kepala negara dan kepala pemerintahan. Tetapi dalam pengertian sosial, seorang presiden juga merupakan pendidik.
Bukan karena presiden berdiri di depan kelas dan mengajar seperti guru atau dosen. Melainkan karena jutaan mata melihat, jutaan telinga mendengar, dan jutaan orang mengikuti apa yang disampaikan seorang presiden. Di situlah saya melihat tanggung jawab yang lebih besar. Anak-anak juga mendengar. Remaja juga menonton. Mahasiswa juga menyaksikan. Masyarakat melihat bagaimana seorang pemimpin berbicara ketika berbeda pendapat dengan orang lain.
Maka pertanyaannya sederhana: bahasa seperti apa yang sedang kita ajarkan kepada generasi muda melalui bahasa para pemimpinnya?
Saya khawatir ada pesan yang keliru jika kata-kata kasar dari pejabat publik terus dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku pelajaran. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Apalagi sekarang satu potongan video dapat beredar ke jutaan orang hanya dalam hitungan menit.
Dulu sebuah ucapan mungkin berhenti di ruangan tempat ucapan itu disampaikan. Sekarang tidak. Ia direkam. Dipotong. Diunggah. Dibagikan. Diulang. Bahkan ketika orang yang mengucapkannya sudah selesai berbicara, kata-kata itu dapat terus hidup di media sosial.
Inilah yang membuat persoalan bahasa pejabat publik menjadi persoalan pendidikan sosial. Kita tentu tidak sedang menuntut pemimpin berbicara seperti membaca buku teks setiap saat. Presiden juga manusia. Presiden boleh bercanda. Presiden boleh tegas. Presiden boleh marah. Presiden juga boleh mengkritik. Tetapi tegas tidak harus kasar. Kritik tidak harus menjadi hinaan. Perbedaan pendapat tidak harus dibalas dengan merendahkan.
Justru di situlah kualitas kepemimpinan terlihat. Saya teringat kembali pada mahasiswa baru yang saya ajak berbicara beberapa waktu lalu. Saya mengatakan kepada mereka bahwa menjadi intelektual berarti belajar mengendalikan pikiran sekaligus bahasa. Kita boleh berbeda pendapat sekeras apa pun. Tetapi jangan kehilangan adab dalam menyampaikannya.
Karena itu, sebagai pendidik, saya tentu berharap para pemimpin negeri juga menunjukkan teladan yang sama. Bukan hanya presiden. Menteri, gubernur, bupati, wali kota, anggota DPR, kepala lembaga, bahkan pejabat di tingkat paling bawah sekalipun perlu menyadari bahwa setiap kata mereka mempunyai audiens dan setiap tindakan mereka mempunyai kemungkinan untuk ditiru.
Pejabat publik sesungguhnya memiliki panggung pendidikan yang jauh lebih besar daripada ruang kelas. Satu kalimat mereka bisa didengar oleh jutaan orang. Karena itu, saya tidak sedang meminta pejabat menjadi manusia yang sempurna.
Saya hanya berharap mereka menyadari satu hal: ketika seseorang menjadi pemimpin, kata-katanya tidak lagi sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Ada masyarakat yang mendengarnya. Ada anak-anak yang merekamnya. Ada generasi muda yang mungkin menjadikannya contoh. Dan ada masa depan yang sedang belajar dari apa yang kita pertontonkan hari ini.
Kita sedang berbicara tentang pembangunan manusia. Kita sedang berbicara tentang pendidikan karakter. Kita sedang berbicara tentang generasi emas. Tetapi pembangunan karakter tidak hanya terjadi di sekolah dan universitas. Ia juga terjadi di rumah, di jalan, di televisi, dan di ruang digital. Termasuk dari mulut para pemimpin.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita melihat jabatan publik bukan hanya sebagai kekuasaan untuk membuat kebijakan, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk memberi teladan. Presiden adalah kepala negara. Tetapi jangan lupa dalam kehidupan sosial, presiden juga seorang pendidik. Dan seorang pendidik tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan. Ia juga mengajarkan melalui apa yang ia ucapkan dan bagaimana ia bersikap.
Redsksi
Asap dan Keadilan
Oleh: Bahren Nurdin
Wabup Tebo Ramaikan JATIL 1 di Teluk Rendah Pasar
TEBO — Wakil Bupati Tebo turut meramaikan Trabas Jelajah Alam Tebo Ilir (JATIL) 1 yang berlangsung di kawasan Taman Hutan Raya Desa Teluk Rendah Pasar, Minggu (20/9
Kegiatan ini menjadi ajang bagi para peserta untuk menikmati keindahan alam sekaligus menyalurkan hobi olahraga trabas. Dengan medan dan karakter alam yang menantang, JATIL 1 turut menghadirkan semangat kebersamaan dan sportivitas antarpeserta.
Kehadiran Wakil Bupati Tebo menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan positif yang melibatkan masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi alam yang dimiliki Kecamatan Tebo Ilir.
Tebo - Pembangunan jalan poros di Desa Tuo Ilir, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, diprotes warga. Proyek senilai hampir Rp 1 miliar yang dikerjakan CV. Anugrah itu dinilai melenceng dari spesifikasi teknis.
Di lapangan, jalan poros dibangun dengan standar jalan lingkungan. Padahal secara teknis, peruntukannya beda jauh. Jalan poros adalah jalan utama antar desa dengan beban berat. Setiap hari dilalui kendaraan pengangkut sawit dengan beban hingga 12 ton. Sementara spesifikasi jalan lingkungan hanya dirancang untuk beban ringan.
"Ini jalan poros, kenapa dibangun pakai spesifikasi jalan lingkungan? Jelas kekuatan dan ketebalannya berbeda," kata seorang warga Tuo Ilir, Rabu (16/9/2026).
Warga menilai kesalahan spesifikasi ini akan membuat jalan cepat hancur dan merugikan keuangan negara. Warga disana juga menyoroti teknis pembesian yang diduga tidak sesuai permintaan.
Warga menilai jika tulangan besi behel ukuran 10 mm lebih memungkin menahan beban berat. Namun yang dipasang pelaksana hanya besi ukuran 6 mm.
Selisih 4 mm ini krusial. Besi 6 mm tidak mampu menahan beban tekan dan tarik untuk lalu lintas 12 ton. Risiko retak dan patah beton jauh lebih tinggi.
Saat diprotes, pelaksana beralasan anggaran terbatas. Bahkan warga mengaku diancam alokasi anggaran akan dipindahkan ke desa lain jika tidak menerima kegiatan pembangunan disana.
Warga mendesak Dinas PUPR Kabupaten Tebo turun langsung dan mengaudit teknis proyek ini sebelum serah terima.
"Percuma dibangun kalau sebulan dua bulan hancur. Ini buang anggaran," tegas warga tersebut.
Redaksi
Subscribe di situs ini untuk mendapatkan update berita terbaru